Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Lifestyle » Budaya yang tergerus zaman, kita harus peduli !!

Budaya yang tergerus zaman, kita harus peduli !!

  • account_circle Fokus id.com
  • visibility 332
  • comment 0 komentar

Fokus.id.com_Indonesia adalah negara yang kaya akan budaya dan warisan yang menakjubkan. Dari Sabang hingga Merauke, ribuan tradisi, bahasa, seni, dan adat istiadat saling berinteraksi untuk membentuk identitas bangsa yang unik dan beragam. Setiap daerah memiliki warisan budayanya sendiri, mencakup tarian, pakaian adat, alat musik tradisional, hingga cerita rakyat yang telah diwariskan dari generasi ke generasi. Namun, di tengah derasnya arus globalisasi dan modernisasi, banyak warisan tersebut mulai tergerus dan terlupakan, bahkan dianggap tidak relevan dengan kehidupan saat ini.

Salah satu hal yang mencolok adalah generasi muda yang lebih akrab dengan budaya asing daripada budaya lokal. Fenomena K-pop, anime, dan tren gaya hidup Barat menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari yang sulit dihindari. Tidak ada yang salah dengan mengapresiasi budaya luar, karena dunia saat ini semakin terhubung. Namun, pertanyaannya adalah: apakah kita masih peduli pada budaya kita sendiri? Apakah kita akan membiarkannya pudar perlahan tanpa melakukan perlawanan?

Modernisasi vs Pelestarian Budaya

Perubahan zaman tak bisa dihindari. Kemajuan teknologi dan arus informasi membuat dunia terasa semakin kecil. Sekarang, kita dapat mengetahui kejadian di Korea, Jepang, atau Amerika dalam sekejap mata. Namun, di balik kemudahan tersebut, terdapat tantangan yang perlu diwaspadai: terpinggirnya budaya lokal.

Beberapa tanda dapat dilihat dengan jelas:
– Bahasa daerah mulai ditinggalkan. Banyak generasi muda yang tidak lagi mampu berbicara dalam bahasa ibu mereka. Bahasa Jawa, Sunda, Batak, atau Bugis, misalnya, kini hanya diucapkan oleh generasi yang lebih tua.
– Upacara adat yang dulunya sakral kini hanya dipentaskan di festival atau saat kunjungan wisata, kehilangan makna spiritualnya dan tergantikan oleh komersialisasi.
– Kesenian tradisional sering dianggap “ketinggalan zaman. ” Seni seperti wayang kulit, tari daerah, dan musik gamelan sering kali kalah pamor dibandingkan tarian modern atau konser internasional.

Padahal, budaya bukanlah hal yang harus dikorbankan demi modernitas. Keduanya dapat berjalan beriringan. Yang diperlukan adalah kesadaran dan upaya serius untuk menjaga, menyesuaikan, dan menghidupkan kembali budaya dengan cara yang relevan.

Media Sosial: Tantangan dan Peluang

Di era digital ini, media sosial menjadi panggung utama bagi generasi muda untuk berekspresi. Sayangnya, konten yang viral sering kali berasal dari budaya luar. Video TikTok tentang tarian K-pop bisa mendapatkan jutaan tayangan, sementara tari Saman, Jaipong, atau Reog Ponorogo hanya dilihat sesekali di linimasa.

Salah satu penyebabnya adalah penampilan visual budaya lokal yang sering dianggap kurang menarik. Budaya kita sering kali dianggap tidak “instagrammable”, kurang “estetik”, atau terlalu “berat” untuk dikonsumsi dengan cepat. Padahal, ini bergantung pada cara kita mengemas dan menyampaikan konten tersebut.

Kabar baiknya, muncul juga komunitas dan kreator konten muda yang menyadari pentingnya mengangkat budaya lokal. Mereka menciptakan konten seperti:
– Tutorial make-up adat daerah,
– Eksplorasi kuliner tradisional dalam bentuk vlog,
– Video edukatif tentang filosofi batik atau alat musik daerah,
– Reels singkat yang mengenalkan kosakata bahasa daerah dengan cara yang menyenangkan.

Mereka menunjukkan bahwa budaya dapat tetap hidup di era digital jika dipresentasikan dengan cara yang kreatif dan relevan. Media sosial, yang selama ini dianggap sebagai penyebab pelunturan budaya, sebenarnya bisa menjadi alat pelestarian yang efektif jika dimanfaatkan dengan bijak.

Pendidikan Budaya: PR yang Belum Selesai

Pendidikan budaya masih menjadi tugas rumah yang perlu ditangani. Mari kita tingkatkan kesadaran akan pentingnya melestarikan warisan budaya kita, karena di tangan generasi muda, masa depan budaya Indonesia akan ditentukan.
Salah satu permasalahan utama yang menyebabkan memudarnya budaya lokal adalah kurangnya pendidikan yang merangkul identitas budaya. Kurikulum sekolah sering kali lebih memprioritaskan pengetahuan umum dan global, tanpa memberikan penekanan yang cukup pada nilai-nilai budaya lokal. Pelajaran seni dan budaya sering kali dianggap sebagai tambahan, bukan sebagai komponen utama yang membentuk karakter dan identitas siswa.

Padahal, pendidikan mengenai budaya seharusnya menjadi pondasi yang penting dalam pembentukan kepribadian anak-anak Indonesia. Sejak usia dini, mereka perlu diperkenalkan dengan bahasa daerah, tarian tradisional, cerita rakyat, dan filosofi adat. Ini bukan sekadar hafalan, melainkan sebagai nilai hidup yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Contohnya, nilai gotong royong yang sudah mendarah daging dalam budaya lokal dapat menjadi bekal penting untuk membangun solidaritas sosial di era modern. Cerita rakyat yang kaya akan pelajaran moral dan etika masih relevan untuk menanamkan karakter yang jujur, adil, dan bertanggung jawab.

Refleksi Identitas: Siapa Kita Tanpa Budaya?

Budaya bukan hanya sekadar tari, musik, atau pakaian adat. Budaya adalah identitas kita; ia mencerminkan siapa kita, dari mana kita berasal, serta nilai-nilai yang kita anut sebagai bangsa. Kehilangan budaya berarti kehilangan jati diri.

Bayangkan jika suatu hari anak-anak cucu kita tidak lagi mengenal lagu daerah, tidak pernah menikmati pertunjukan wayang, atau tidak memahami filosofi di balik motif batik. Mereka mungkin hanya melihatnya sebagai artefak museum, bukan bagian dari kehidupan mereka sehari-hari.

Padahal, budaya mengajarkan kita nilai-nilai luhur seperti:
– Toleransi dan keberagaman (sebagaimana tercermin dalam semboyan Bhinneka Tunggal Ika),
– Rasa hormat kepada orang tua dan leluhur,
– Kearifan lokal dalam menjaga alam dan lingkungan,
– Ketahanan sosial melalui gotong royong dan solidaritas komunitas.

Semua nilai ini adalah fondasi yang penting untuk menghadapi masa depan yang penuh tantangan. Jika kita tidak menjaga budaya, kita tidak hanya kehilangan masa lalu, tetapi juga kehilangan persiapan untuk masa depan.

Menjadi Modern Tanpa Kehilangan Akar

Kemajuan zaman seharusnya tidak ditakuti. Kita bisa menjadi bangsa yang modern sambil tetap berpijak pada akar budaya kita. Justru, kekuatan sebuah bangsa di masa depan ditentukan oleh kemampuannya dalam menjaga identitas di tengah derasnya arus globalisasi.

Menjaga budaya tidak harus dilakukan dengan cara-cara konvensional. Kita dapat:
– Membuat konten kreatif yang mengangkat tema budaya lokal,
– Mendorong pendidikan budaya yang kontekstual dan menyenangkan,
– Menyelenggarakan kegiatan komunitas yang memadukan tradisi dengan inovasi,
– Memilih produk lokal, menggunakan bahasa daerah, dan menghidupkan adat dalam kehidupan sehari-hari.

Semua perubahan dapat dimulai dari langkah kecil, seperti menyanyikan lagu daerah, mengenakan batik tidak hanya pada hari Jumat, ikut belajar menari atau memainkan alat musik tradisional, atau sekadar mengajak teman bercakap dalam bahasa ibu.

Mari kita rawat budaya, bukan sekadar melalui seremoni tahunan, tetapi dengan aksi nyata. Budaya bukan hanya sesuatu yang diwariskan dari nenek moyang, tetapi juga sesuatu yang kita pinjam dari anak cucu kita. Sudahkah kita menjaga titipan itu dengan baik?

Penulis

Fokusid.com merupakan sebuah platform media informasi yang hadir untuk memberikan akses berita dan pengetahuan yang akurat, terpercaya, dan berimbang kepada masyarakat. Sebagai alat media informasi, Fokusid.com berkomitmen untuk menyajikan konten yang relevan dan berkualitas,Dengan mengedepankan integritas jurnalistik dan prinsip keberimbangan dalam penyajian informasi.

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Barcelona kembali cetak rekor 82 tahun lalu pada 2025

    Barcelona kembali cetak rekor 82 tahun lalu pada 2025

    • account_circle Fokus id.com
    • visibility 42
    • 0Komentar

    Jakarta-Fokusid.com – Barcelona berhasil menyamai pencapaian yang telah ada selama 82 tahun pada 2025, yakni selalu mencetak gol dalam setiap pertandingan Liga Spanyol sepanjang satu tahun kalender. Menurut informasi yang diperoleh dari situs resmi Barcelona pada hari Selasa, tim ini tampil dalam 37 pertandingan liga sepanjang 2025 dengan rincian 31 kemenangan, tiga hasil imbang, dan […]

  • Ekonomi RI Akhir Tahun 2025 Tetap Stabil di Tengah Ketidakpastian Global

    Ekonomi RI Akhir Tahun 2025 Tetap Stabil di Tengah Ketidakpastian Global

    • account_circle Fokus id.com
    • visibility 65
    • 0Komentar

    Jakarta-Fokusid.com-Memasuki akhir tahun 2025, ekonomi Indonesia menunjukkan ketahanan yang cukup baik meskipun terdapat tantangan dari faktor global. Berbagai indikator makroekonomi menunjukkan perbaikan, termasuk pertumbuhan konsumsi, stabilitas nilai tukar rupiah, dan peningkatan investasi di sektor industri serta digital. Pemerintah melalui Kementerian Keuangan mengungkapkan bahwa pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV diperkirakan antara 5,1%–5,3%, didorong oleh tingginya pengeluaran […]

  • Stranas PK wujud akselerator reformasi struktural, Kata Menteri PANRB

    Stranas PK wujud akselerator reformasi struktural, Kata Menteri PANRB

    • account_circle Fokus id.com
    • visibility 186
    • 0Komentar

    Jakarta (Fokusid.com) – Rini Widyantini, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, menyatakan bahwa Strategi Nasional Pencegahan Korupsi (Stranas PK) bukan hanya alat untuk mengawasi, tetapi juga berfungsi sebagai pendorong reformasi struktural yang membantu meningkatkan ekonomi dan daya saing Indonesia. “Saat melakukan Rapat Koordinasi Tim Nasional Pencegahan Korupsi di Jakarta pada 24 Juli, Presiden Prabowo […]

  • Menyederhanakan NU Kembali ke Khittah

    Menyederhanakan NU Kembali ke Khittah

    • account_circle Fokus id.com
    • visibility 72
    • 0Komentar

    Fokusid.com-Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) akhir-akhir ini ,seolah Kekacauan dan pergeseran yang terjadi di internal PBNU ini menggugah kembali ingatan kita tentang betapa rapuhnya organisasi ini ketika kepemimpinan tidak memiliki struktur yang jelas. Setiap pihak merasa memiliki hak untuk mengklaim legitimasi—Rais ‘Aam terpilih melalui Muktamar, begitu pula Ketua Umum. Masing-masing yakin memiliki mandat langsung dari […]

  • Menag Prof Nasaruddin Umar : CKG di pesantren bukti kebijakan pemerintah yang inklusif

    Menag Prof Nasaruddin Umar : CKG di pesantren bukti kebijakan pemerintah yang inklusif

    • account_circle Fokus id.com
    • visibility 100
    • 0Komentar

    Jakarta (Fokusid.com) – Menteri Agama Nasaruddin Umar menyatakan bahwa pelaksanaan Cek Kesehatan Gratis (CKG) di pesantren dan madrasah menunjukkan komitmen pemerintah untuk kebijakan yang inklusif. “Kita tidak hanya peduli pada anak-anak di sekolah umum, tapi juga di pondok pesantren dan ini berlangsung di ponpes, sehingga tidak ada perbedaan perlakuan antara madrasah dan sekolah,” jelas Imam […]

  • Ketua MPR RI Ahmad Muzani : Masyarakat pasti hatinya “merah putih”

    Ketua MPR RI Ahmad Muzani : Masyarakat pasti hatinya “merah putih”

    • account_circle Fokus id.com
    • visibility 110
    • 0Komentar

    Jakarta (Fokusid.com) – Ahmad Muzani, Ketua MPR RI, percaya bahwa rakyat Indonesia memiliki semangat nasionalisme dan rasa cinta tanah air yang kuat. Pernyataan ini disampaikan Muzani sebagai respons terhadap fenomena pengibaran bendera bajak laut dari manga One Piece menjelang perayaan HUT Ke-80 RI yang akan berlangsung pada 17 Agustus mendatang. “Saya rasa ini adalah bentuk […]

expand_less