Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Lifestyle » Budaya yang tergerus zaman, kita harus peduli !!

Budaya yang tergerus zaman, kita harus peduli !!

  • account_circle Fokus id.com
  • visibility 331
  • comment 0 komentar

Fokus.id.com_Indonesia adalah negara yang kaya akan budaya dan warisan yang menakjubkan. Dari Sabang hingga Merauke, ribuan tradisi, bahasa, seni, dan adat istiadat saling berinteraksi untuk membentuk identitas bangsa yang unik dan beragam. Setiap daerah memiliki warisan budayanya sendiri, mencakup tarian, pakaian adat, alat musik tradisional, hingga cerita rakyat yang telah diwariskan dari generasi ke generasi. Namun, di tengah derasnya arus globalisasi dan modernisasi, banyak warisan tersebut mulai tergerus dan terlupakan, bahkan dianggap tidak relevan dengan kehidupan saat ini.

Salah satu hal yang mencolok adalah generasi muda yang lebih akrab dengan budaya asing daripada budaya lokal. Fenomena K-pop, anime, dan tren gaya hidup Barat menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari yang sulit dihindari. Tidak ada yang salah dengan mengapresiasi budaya luar, karena dunia saat ini semakin terhubung. Namun, pertanyaannya adalah: apakah kita masih peduli pada budaya kita sendiri? Apakah kita akan membiarkannya pudar perlahan tanpa melakukan perlawanan?

Modernisasi vs Pelestarian Budaya

Perubahan zaman tak bisa dihindari. Kemajuan teknologi dan arus informasi membuat dunia terasa semakin kecil. Sekarang, kita dapat mengetahui kejadian di Korea, Jepang, atau Amerika dalam sekejap mata. Namun, di balik kemudahan tersebut, terdapat tantangan yang perlu diwaspadai: terpinggirnya budaya lokal.

Beberapa tanda dapat dilihat dengan jelas:
– Bahasa daerah mulai ditinggalkan. Banyak generasi muda yang tidak lagi mampu berbicara dalam bahasa ibu mereka. Bahasa Jawa, Sunda, Batak, atau Bugis, misalnya, kini hanya diucapkan oleh generasi yang lebih tua.
– Upacara adat yang dulunya sakral kini hanya dipentaskan di festival atau saat kunjungan wisata, kehilangan makna spiritualnya dan tergantikan oleh komersialisasi.
– Kesenian tradisional sering dianggap “ketinggalan zaman. ” Seni seperti wayang kulit, tari daerah, dan musik gamelan sering kali kalah pamor dibandingkan tarian modern atau konser internasional.

Padahal, budaya bukanlah hal yang harus dikorbankan demi modernitas. Keduanya dapat berjalan beriringan. Yang diperlukan adalah kesadaran dan upaya serius untuk menjaga, menyesuaikan, dan menghidupkan kembali budaya dengan cara yang relevan.

Media Sosial: Tantangan dan Peluang

Di era digital ini, media sosial menjadi panggung utama bagi generasi muda untuk berekspresi. Sayangnya, konten yang viral sering kali berasal dari budaya luar. Video TikTok tentang tarian K-pop bisa mendapatkan jutaan tayangan, sementara tari Saman, Jaipong, atau Reog Ponorogo hanya dilihat sesekali di linimasa.

Salah satu penyebabnya adalah penampilan visual budaya lokal yang sering dianggap kurang menarik. Budaya kita sering kali dianggap tidak “instagrammable”, kurang “estetik”, atau terlalu “berat” untuk dikonsumsi dengan cepat. Padahal, ini bergantung pada cara kita mengemas dan menyampaikan konten tersebut.

Kabar baiknya, muncul juga komunitas dan kreator konten muda yang menyadari pentingnya mengangkat budaya lokal. Mereka menciptakan konten seperti:
– Tutorial make-up adat daerah,
– Eksplorasi kuliner tradisional dalam bentuk vlog,
– Video edukatif tentang filosofi batik atau alat musik daerah,
– Reels singkat yang mengenalkan kosakata bahasa daerah dengan cara yang menyenangkan.

Mereka menunjukkan bahwa budaya dapat tetap hidup di era digital jika dipresentasikan dengan cara yang kreatif dan relevan. Media sosial, yang selama ini dianggap sebagai penyebab pelunturan budaya, sebenarnya bisa menjadi alat pelestarian yang efektif jika dimanfaatkan dengan bijak.

Pendidikan Budaya: PR yang Belum Selesai

Pendidikan budaya masih menjadi tugas rumah yang perlu ditangani. Mari kita tingkatkan kesadaran akan pentingnya melestarikan warisan budaya kita, karena di tangan generasi muda, masa depan budaya Indonesia akan ditentukan.
Salah satu permasalahan utama yang menyebabkan memudarnya budaya lokal adalah kurangnya pendidikan yang merangkul identitas budaya. Kurikulum sekolah sering kali lebih memprioritaskan pengetahuan umum dan global, tanpa memberikan penekanan yang cukup pada nilai-nilai budaya lokal. Pelajaran seni dan budaya sering kali dianggap sebagai tambahan, bukan sebagai komponen utama yang membentuk karakter dan identitas siswa.

Padahal, pendidikan mengenai budaya seharusnya menjadi pondasi yang penting dalam pembentukan kepribadian anak-anak Indonesia. Sejak usia dini, mereka perlu diperkenalkan dengan bahasa daerah, tarian tradisional, cerita rakyat, dan filosofi adat. Ini bukan sekadar hafalan, melainkan sebagai nilai hidup yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Contohnya, nilai gotong royong yang sudah mendarah daging dalam budaya lokal dapat menjadi bekal penting untuk membangun solidaritas sosial di era modern. Cerita rakyat yang kaya akan pelajaran moral dan etika masih relevan untuk menanamkan karakter yang jujur, adil, dan bertanggung jawab.

Refleksi Identitas: Siapa Kita Tanpa Budaya?

Budaya bukan hanya sekadar tari, musik, atau pakaian adat. Budaya adalah identitas kita; ia mencerminkan siapa kita, dari mana kita berasal, serta nilai-nilai yang kita anut sebagai bangsa. Kehilangan budaya berarti kehilangan jati diri.

Bayangkan jika suatu hari anak-anak cucu kita tidak lagi mengenal lagu daerah, tidak pernah menikmati pertunjukan wayang, atau tidak memahami filosofi di balik motif batik. Mereka mungkin hanya melihatnya sebagai artefak museum, bukan bagian dari kehidupan mereka sehari-hari.

Padahal, budaya mengajarkan kita nilai-nilai luhur seperti:
– Toleransi dan keberagaman (sebagaimana tercermin dalam semboyan Bhinneka Tunggal Ika),
– Rasa hormat kepada orang tua dan leluhur,
– Kearifan lokal dalam menjaga alam dan lingkungan,
– Ketahanan sosial melalui gotong royong dan solidaritas komunitas.

Semua nilai ini adalah fondasi yang penting untuk menghadapi masa depan yang penuh tantangan. Jika kita tidak menjaga budaya, kita tidak hanya kehilangan masa lalu, tetapi juga kehilangan persiapan untuk masa depan.

Menjadi Modern Tanpa Kehilangan Akar

Kemajuan zaman seharusnya tidak ditakuti. Kita bisa menjadi bangsa yang modern sambil tetap berpijak pada akar budaya kita. Justru, kekuatan sebuah bangsa di masa depan ditentukan oleh kemampuannya dalam menjaga identitas di tengah derasnya arus globalisasi.

Menjaga budaya tidak harus dilakukan dengan cara-cara konvensional. Kita dapat:
– Membuat konten kreatif yang mengangkat tema budaya lokal,
– Mendorong pendidikan budaya yang kontekstual dan menyenangkan,
– Menyelenggarakan kegiatan komunitas yang memadukan tradisi dengan inovasi,
– Memilih produk lokal, menggunakan bahasa daerah, dan menghidupkan adat dalam kehidupan sehari-hari.

Semua perubahan dapat dimulai dari langkah kecil, seperti menyanyikan lagu daerah, mengenakan batik tidak hanya pada hari Jumat, ikut belajar menari atau memainkan alat musik tradisional, atau sekadar mengajak teman bercakap dalam bahasa ibu.

Mari kita rawat budaya, bukan sekadar melalui seremoni tahunan, tetapi dengan aksi nyata. Budaya bukan hanya sesuatu yang diwariskan dari nenek moyang, tetapi juga sesuatu yang kita pinjam dari anak cucu kita. Sudahkah kita menjaga titipan itu dengan baik?

Penulis

Fokusid.com merupakan sebuah platform media informasi yang hadir untuk memberikan akses berita dan pengetahuan yang akurat, terpercaya, dan berimbang kepada masyarakat. Sebagai alat media informasi, Fokusid.com berkomitmen untuk menyajikan konten yang relevan dan berkualitas,Dengan mengedepankan integritas jurnalistik dan prinsip keberimbangan dalam penyajian informasi.

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Politisi PDIP: Narasi bikin bingung publik ,Jokowi Bilang Ada Agenda Besar Politik di Balik Isu Ijazah

    Politisi PDIP: Narasi bikin bingung publik ,Jokowi Bilang Ada Agenda Besar Politik di Balik Isu Ijazah

    • account_circle Fokus id.com
    • visibility 129
    • 0Komentar

    JAKARTA,Fokusid.com – Anggota PDIP Aria Bima memberikan tanggapan terhadap pernyataan mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang menyebut adanya agenda politik besar di balik isu ijazah palsu. Dia mengingatkan Jokowi sebaiknya menyampaikan hal-hal yang memberikan pencerahan bagi masyarakat alih-alih malah menciptakan kebingungan. “Sebagai presiden yang sudah dua kali menjabat, seharusnya Pak Jokowi fokus pada isu-isu besar […]

  • Presiden Prabowo bangga kontingen TNI ikut parade Hari Bastille di Paris

    Presiden Prabowo bangga kontingen TNI ikut parade Hari Bastille di Paris

    • account_circle Fokus id.com
    • visibility 115
    • 0Komentar

    Fokusid.com-Presiden Prabowo menyaksikan secara langsung parade militer Hari Bastille sebagai tamu kehormatan atas undangan dari Presiden Macron pada Senin pagi waktu setempat, Di akun yang sama, Presiden Prabowo juga membagikan sejumlah foto perayaan Hari Bastille, yang dilengkapi dengan keterangan dalam bahasa Prancis: “Joyeuse fête nationale pour toute la France! (Selamat Hari Nasional untuk seluruh rakyat […]

  • Prof Yusril: Wapres Gibran tak berkantor di Papua

    Prof Yusril: Wapres Gibran tak berkantor di Papua

    • account_circle Fokus id.com
    • visibility 133
    • 0Komentar

    Jakarta (Fokusid. com) – Yusril Ihza Mahendra, yang menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi, dan Pemasyarakatan, memastikan bahwa Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka tidak akan bekerja di Papua, melainkan di Sekretariat Badan Pengarah Percepatan Pembangunan Otonomi Khusus Papua. Pernyataan ini menjelaskan lebih lanjut tentang tugas Wapres dalam mempercepat pembangunan di Papua, […]

  • Pemerintah AS akhiri status perlindungan sementara warga Myanmar

    Pemerintah AS akhiri status perlindungan sementara warga Myanmar

    • account_circle Fokus id.com
    • visibility 63
    • 0Komentar

    Washington (Fokusid.com) – Pemerintahan AS Presiden Donald Trump akan mengakhiri Status Perlindungan Sementara (TPS) untuk lebih dari 4. 000 orang Myanmar yang berada di Amerika Serikat mulai 24 Januari, dengan alasan bahwa situasi di negara asal mereka sudah membaik. “Dengan pemberitahuan ini, Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS) menginformasikan bahwa Menteri Keamanan Dalam Negeri telah memutuskan […]

  • Baleg DPR tampung masukan dari pakar, bahas RUU BPIP

    Baleg DPR tampung masukan dari pakar, bahas RUU BPIP

    • account_circle Fokus id.com
    • visibility 201
    • 0Komentar

    Jakarta (Fokusid.com) – Badan Legislasi DPR RI mengadakan sesi dengar pendapat umum mengenai penyusunan Rancangan Undang-Undang tentang Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (RUU BPIP) dengan sejumlah ahli untuk mendapatkan masukan guna memastikan bahwa produk legislasi ini memenuhi kebutuhan hukum masyarakat dan negara. Para narasumber yang hadir dalam pertemuan tersebut mencakup pakar hukum tata negara Jimly Asshiddiqie […]

  • Destinasi Favorit Wisata di Bali Sepanjang 2025

    Destinasi Favorit Wisata di Bali Sepanjang 2025

    • account_circle Fokus id.com
    • visibility 37
    • 0Komentar

    Bali -Fokusid.com–Pulau yang dikenal sebagai Dewata ini kembali menarik perhatian wisatawan dari dalam dan luar negeri di tahun 2025. Selain pantai-pantai terkenal, beberapa tempat baru dan lokasi lama yang telah diperbarui kini menjadi pusat perhatian. Berikut adalah daftar tempat wisata di Bali yang patut dikunjungi tahun ini. 1. Pantai Melasti Ungasan – Destinasi Favorit untuk […]

expand_less