Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Gayahidup » Fenomena healing culture : Budaya baru atau pelarian !!

Fenomena healing culture : Budaya baru atau pelarian !!

  • account_circle Fokus id.com
  • visibility 430
  • comment 0 komentar

Fokusid.com_Istilah “healing” kini semakin akrab di telinga kita, terutama di kalangan generasi muda. Istilah ini tidak lagi terbatas pada konteks penyembuhan luka batin, tetapi telah meluas menjadi penamaan untuk berbagai aktivitas santai seperti staycation di hotel, menghabiskan waktu di kafe sambil ngopi, menonton film sendirian, bahkan tidur seharian di kamar. Semua aktivitas tersebut kini diberi label “healing. ”

 

Fenomena ini bukan sekadar tren gaya hidup, melainkan mencerminkan kondisi sosial dan psikologis yang lebih dalam—mengenai kelelahan kolektif, keresahan emosional, dan cara kita bertahan dalam dunia yang serba cepat dan sibuk, kadang tidak memberi ruang untuk bernapas. Pertanyaannya muncul: apakah healing culture ini merupakan tanda kesadaran yang sehat, atau justru sebuah pelarian dari realitas?

Dari Tren Menjadi Gaya Hidup

Awalnya, istilah healing merujuk pada proses penyembuhan dari trauma atau pengalaman emosional yang menyakitkan. Namun, seiring berjalannya waktu, maknanya menjadi lebih luas dan fleksibel. Healing kini tidak harus melalui terapi formal, melainkan dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang membawa kenyamanan, menenangkan pikiran, dan mengembalikan semangat hidup, meski hanya untuk sejenak.

Fenomena ini berkembang seiring meningkatnya kesadaran akan kesehatan mental, apalagi setelah pandemi COVID-19 yang membuat tekanan emosional semakin meningkat. Isolasi sosial, kehilangan pekerjaan, dan kecemasan akan ketidakpastian, serta interaksi digital yang melelahkan, menjadi pemicu meningkatnya kebutuhan untuk “menenangkan diri. ”

Kini, healing bukan hanya sebagai respon terhadap trauma besar, tetapi juga sebagai jawaban terhadap burnout yang dialami sehari-hari. Generasi muda, terutama Gen Z dan milenial, sering kali merasa terdorong untuk selalu tampil kuat, produktif, dan sukses di usia yang masih muda. Di tengah rutinitas yang padat, healing berfungsi sebagai rem darurat untuk menyelamatkan diri.


Budaya ‘Over-Productive’ dan Tekanan Sosial

Kita hidup dalam budaya yang mengutamakan produktivitas. Seseorang dianggap “berhasil” jika selalu sibuk; semakin padat jadwalnya, semakin dihargai. Padahal, tubuh dan pikiran manusia memiliki batas. Ketika terus-menerus dipacu tanpa istirahat, konsekuensinya bisa sangat serius—mulai dari gangguan tidur, kelelahan emosional, hingga depresi.

Ironisnya, istirahat sering kali masih dipandang sebagai tanda kemalasan. Ungkapan seperti “jangan rebahan terus,” “kerja dulu baru healing,” atau “masa muda harus kerja keras dulu” menjadi narasi umum. Padahal, beristirahat bukanlah bentuk kemunduran. Dengan cukup istirahat, seseorang justru bisa bekerja dengan lebih fokus dan seimbang.

Healing culture, dalam konteks ini, menjadi bentuk perlawanan kecil terhadap norma sosial yang menuntut kita untuk selalu aktif. Ini adalah pesan yang tak terucap: “Aku juga manusia, aku berhak merasa lelah, dan aku butuh waktu untuk pulih.

Pelarian atau Kesadaran Baru?

Namun, tidak semua bentuk healing adalah sehat. Dalam banyak kasus, healing hanya menjadi pelarian sementara dari masalah yang sebenarnya tidak terselesaikan. Misalnya:
– Belanja impulsif untuk “menghibur diri” justru menimbulkan stres finansial,
– Konsumsi makanan berlebihan atau tidak sehat,
– Berlibur hanya untuk melupakan masalah, bukannya menyelesaikannya.

 

Fenomena ini seperti memberikan plester pada luka yang dalam; rasa sakit mungkin berkurang sesaat, tetapi luka itu tetap ada. Tanpa disadari, healing bisa menjadi anestesi yang menumpulkan rasa, bukan menyembuhkan luka.
Namun, di sisi lain, kemunculan ruang-ruang diskusi mengenai kesehatan mental, praktik self-care, journaling, terapi, dan meditasi membawa angin segar. Banyak orang kini semakin terbuka untuk membicarakan luka batin mereka, mencari bantuan profesional, dan mengembangkan rutinitas yang lebih mindful. Di sinilah terletak transformasi budaya penyembuhan: dari sekadar tren menjadi kesadaran mendalam.

 

Ekonomi Emosional: Ketika Healing Menjadi Komoditas
Fenomena budaya penyembuhan ini tidak hanya menyentuh ranah personal, tetapi juga memberikan dampak sosial dan ekonomi yang signifikan. Saat ini, kita melihat pertumbuhan pesat di sektor-sektor yang menawarkan “ketenangan” sebagai produk:
– Industri pariwisata kini menyediakan konsep wellness travel retreat yoga, glamping di alam terbuka, dan staycation di villa yang tenang.
– Produk self-care seperti lilin aromaterapi, skincare, diffuser essential oil, dan buku journaling pun mengalami lonjakan penjualan di pasaran.
– Kafe, ruang kerja bersama, dan studio meditasi merancang tempat mereka dengan estetika yang menenangkan, menjadikannya ideal untuk pengalaman “healing”.

 

Inilah yang disebut ekonomi emosional, sebuah pasar yang berkembang dari kebutuhan manusia akan kedamaian dan pemulihan. Budaya penyembuhan menjadi bagian dari gaya hidup konsumsi, dan perusahaan pun menanggapi perkembangan ini dengan bijak.

 

Namun, perlu diingat bahwa penyembuhan yang sejati bukanlah sesuatu yang bisa dibeli. Ia merupakan proses yang dibangun dari dalam diri. Produk dan pengalaman hanyalah alat bantu, bukan tujuan akhir dalam perjalanan kita.

 

Budaya Healing: Membangun Masyarakat yang Lebih Sadar
Dari perspektif yang lebih luas, budaya penyembuhan juga membawa harapan baru. Ia menunjukkan bahwa kita sebagai masyarakat mulai menyadari pentingnya merawat diri, tidak hanya dari segi fisik tetapi juga mental dan emosional.
Kita mulai belajar untuk tidak lagi meremehkan masalah mental dengan ungkapan seperti “baper” atau “kurang bersyukur”. Kita mulai memahami bahwa setiap orang memiliki luka dan berhak untuk menyembuhkannya dengan cara mereka sendiri.

Komunitas-komunitas pendukung kesehatan mental bermunculan, mulai dari ruang curhat online, program konseling berbasis komunitas, hingga gerakan self-love yang semakin populer di media sosial. Ini semua adalah langkah positif menuju masyarakat yang lebih empatik, lembut, dan manusiawi.

 

Apa yang Sebenarnya Kita Cari dari Healing?
Pada akhirnya, budaya penyembuhan bukanlah sesuatu yang perlu kita kritik atau puji secara berlebihan. Ia mencerminkan kondisi sosial saat ini—bahwa manusia modern sering merasa lelah, bingung, dan kadang kehilangan arah. Di tengah tantangan ekonomi, krisis eksistensi, dan dinamika dunia yang cepat, kita perlu menemukan waktu untuk bertanya pada diri sendiri: bagaimana keadaan jiwa kita?

 

Mungkin, penyembuhan bukanlah tentang pergi ke lokasi yang eksotis atau membeli produk mahal. Mungkin, penyembuhan adalah saat kita mulai jujur pada diri sendiri, memaafkan masa lalu, dan mencintai hidup dengan semua kekurangan yang ada.

 

Oleh karena itu, daripada bertanya apakah budaya penyembuhan ini merupakan pelarian atau bentuk kesadaran, mari tanyakan yang lebih mendalam: apa sebenarnya yang sedang kita sembuhkan? Dan bagaimana kita dapat menciptakan budaya yang tidak hanya produktif, tetapi juga peduli pada keutuhan jiwa?

Penulis

Fokusid.com merupakan sebuah platform media informasi yang hadir untuk memberikan akses berita dan pengetahuan yang akurat, terpercaya, dan berimbang kepada masyarakat. Sebagai alat media informasi, Fokusid.com berkomitmen untuk menyajikan konten yang relevan dan berkualitas,Dengan mengedepankan integritas jurnalistik dan prinsip keberimbangan dalam penyajian informasi.

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Arsenal harus waspada, pesaing masih punya peluang merebut gelar Juara sejarah Premier League

    Arsenal harus waspada, pesaing masih punya peluang merebut gelar Juara sejarah Premier League

    • account_circle Fokus id.com
    • visibility 65
    • 0Komentar

    Jakarta-Fokusid.com– Arsenal memasuki periode penting dalam kompetisi Liga Inggris dengan keunggulan enam poin di posisi teratas klasemen, meskipun situasinya masih rapuh dan terdapat kemungkinan ancaman karena beberapa tim pernah berhasil membalikkan keadaan yang serupa untuk menjadi juara dalam sejarah  Premier League. “Di liga ini, tidak banyak yang bisa dijamin. Kami bermain dengan sangat baik, kami […]

  • Dinamika politik indonesia 2025 !!

    Dinamika politik indonesia 2025 !!

    • account_circle Fokus id.com
    • visibility 139
    • 0Komentar

    (Poto Viva) Fokusid.com_Dinamika Politik Indonesia 2025: Pertemuan Elite, Strategi Koalisi, dan Tantangan Demokrasi Tahun 2025 adalah fase baru dalam sejarah politik Indonesia. Setelah pemilihan umum yang terjadi pada tahun 2024, sejumlah peristiwa signifikan muncul, mulai dari interaksi antara pemimpin politik utama hingga kebijakan yang menimbulkan kontroversi di kalangan masyarakat. Artikel ini membahas secara rinci situasi […]

  • Presiden Prabowo Dengarkan Aspirasi Warga di Posko Pengungsian di Kab Aceh Tengah

    Presiden Prabowo Dengarkan Aspirasi Warga di Posko Pengungsian di Kab Aceh Tengah

    • account_circle Fokus id.com
    • visibility 50
    • 0Komentar

    Jakarta-Fokusid.com-Keriuhan posko pengungsi di Masjid Besar Al-Abrar, Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Aceh tiba-tiba menjadi sunyi ketika Ibu Raodah, Kepala Tim Relawan Masak, menyampaikan pendapatnya kepada Presiden Prabowo Subianto, Jumat (12/12/2025). Dengan suara lembut bergetar dan mata yang berkaca-kaca, dia berbicara mewakili ribuan warga yang sedang berjuang melewati masa sulit setelah bencana. “Warga Aceh Tengah mengucapkan […]

  • Kuliner Legendaris dan Favorit Wisatawan di jogja

    Kuliner Legendaris dan Favorit Wisatawan di jogja

    • account_circle Fokus id.com
    • visibility 33
    • 0Komentar

    Yogyakarta-Fokusid.com– Selain terkenal sebagai kota pendidikan dan seni, Yogyakarta juga merupakan tempat yang kaya akan kuliner yang biasanya dicari oleh para wisatawan. Beberapa makanan khasnya bukan hanya menggugah selera, tetapi juga memiliki latar belakang yang panjang serta rasa yang autentik. Berikut beberapa makanan khas Jogja yang paling terkenal dan harus dicicipi: 1. Gudeg Hidangan khas […]

  • Wapres Gibran apresiasi Senkom Mitra Polri terlibat di pertanian dan MBG

    Wapres Gibran apresiasi Senkom Mitra Polri terlibat di pertanian dan MBG

    • account_circle Fokus id.com
    • visibility 151
    • 0Komentar

    Jakarta (Fokusid.com) – Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka menghargai partisipasi Senkom Mitra Polri dalam berbagai inisiatif strategis pemerintah, mulai dari bidang pertanian hingga realisasi program Makan Bergizi Gratis (MBG). “Baru saja Pak Ketua menjelaskan mengenai peran Senkom dalam hal ini, seperti dalam peternakan ayam dan pertanian. Menurut saya, ini sangat positif, mengingat Pak Presiden […]

  • Kemenekraf ajak GEKRAFS Sinergikan ekosistem kreatif mulai dari daerah

    Kemenekraf ajak GEKRAFS Sinergikan ekosistem kreatif mulai dari daerah

    • account_circle Fokus id.com
    • visibility 179
    • 0Komentar

    Jakarta (Fokusid.com) – Kementerian Ekonomi Kreatif telah melakukan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) dengan Gerakan Ekonomi Kreatif Nasional (GEKRAFS) sebagai upaya strategis untuk memperkuat kerja sama dalam pengembangan sektor ekonomi kreatif di Indonesia, yang dimulai dari tingkat daerah. “Nota kesepahaman ini merupakan landasan untuk kolaborasi yang lebih nyata dalam mendukung penguatan ekosistem kreatif di Indonesia yang […]

expand_less